Rabu, 14 November 2018
Papaverin injeksi
Laporan Pratikum Teknologi Sediaan Steril
PAPAVERIN HCl INJEKSION
COPAVIN®
Oleh
Citra Dewi (1717674)
Dosen Pemimbing:
Dra.Hj.Daryati Mardja.,Apt.,A.F.K
Suzana Dewi.,S.Farm.,M.Farm.,Apt
Akademi Farmasi Prayoga
PADANG
2017/2018
Pembuatan obat injeksi Papaverin HCl
I. TINJAUAN PUSTAKA
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau serbuk yang halus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau selaput lendir.
Injeksi di racik dengan melarutkan, mengemulsikan atau mensuspensikan sejumlah obat ke dalam sejumlah pelarut atau dengan mengisikan sejumlah obat ke dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis ganda.
Susunan isi Obat injeksi:
Zat berkhasiat memenuhi syarat yang tercantum sesuai monografinya masing-masing dalam farmakope.
Pada etiket tercantum: p.i (pro injeksi) Obat yang beretiket p.a (pro analis), walau secara kimia terjamin kualitasnya, tapi belum tentu memenuhi syarat untuk injeksi.
Zat pembawa
Zat pembawa berair: umumnya digunakan air sebagai zat pembawa, dapat pula digunakan NaCl, injeksi NaCl majemuk, injeksi glukosa, campuran gliserol dan etanol. Zat pembawa air harus memenuhi syarat uji endotksin bakteri. Air yang digunakan adalah aqua pro injeksi. Air ini dibuat dengan cara menyuling kembali air suling segar dengan alat wadah logam yang cocok dengan labu percik. Hasil sulingan pertama di buang dan sulingan selanjutnya di tampung dan segera digunakan. Bila tidak segera digunakanharus di sterilkan dengan cara sterilisasi A/C. Air untuk injeksi dibuat dengan mendidihkan air untuk injeksi segar selama 10 menit sambil dicegah hubungan dengan udara sesempurna mungkin, dinginkan dan digunakan langsung. Jika tidak, sterilkan dengan cara sterilisasi A.
Zat pembawa tak berair: umumnya digunakanminyak untuk injeksi, oleum pro injeksi, misal minyak lemak, ester dalam asam lemak tinggi baik alam/sintetis. Pembawa taka berair di perlukan jika:
Bahan obat sukar larut dalam air
Bahan obatnya tidak stabil/ terurai dalam air
Diketahui efek depo terapi
Bahan pembantu
Ditambahkan dengan maksud :
1. Untuk mendapatkan pH optimal
2. Untuk mendapatkan larutan isotonis
3. Untuk mendapatkan larutan yang isohidri
4. Sebagai zat bakterisida
5. Sebagai pemati rasa setempat
6. Sebagai stabilator
Cara pembuatan obat injeksi:
Perencanaan: apakah obat injeksi itu akan akan dibuat secara aseptik atau Na-steril.
Pada pembuatan skala kecil alat yang digunakan yaitu:
pinset spatel, pengaduk kaca, dan kaca arloji yang di sterilkan. Ampul, vial, atau flakon dan tutup karet, gelas piala, erlenmeyer, corong yang dapat di sterilkan dalam oven 150oC/30 menit, (kecuali tutup karet, didihkan selama 30 menit dalam air suling), kertas saring, gelas ukur disterilkan dengan autoklaf.
Perhitungan dan Penimbangan: dibuat terlebih dahulu dari jumlah yang harus di dapat karena dilakukan penyaringan, kemudian ditimbang. Larutkan masing-masing dalam aqua p.i yang sudah dijelaskan cara pembuatannya, lalu campurkan.
Penyaringan: lakukan penyaringan hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat. Pada pembuatan skala kecil dapat disaring dengan kertas saring biasa 2x.
Pengisian ke dalam wadah Cairan farmakope telah mengatur volume tambahan yang dianjurkan
Bubuk kering: jumlah bubuk di ukur dengan jalan peimbangan/berdasarkan, lalu diisikan dengan corong.
Penutupan wadah:
Wadah dosis tunggal: dengan cara melebur ujungnys dengan api hingga tertutup-kedap
Wadah dosis ganda: ditutup dengan karet dilapisi dengan tutup aluminium.
Sterilisasi: dapat dilakukan menurut FI III,dan FI IV sesuai dengan persyaratan pada masing-masing monografinya dan sifat larutan obat injeksinya.
Keuntungan dan Kerugian bentuk sedian injeksi:
Keuntungan
1. Bekerja cepat
2. Dapat digunakan untuk obat yang rusak, jika
terkena cairan lambung.
3. Merangsang jika masuk ke cairan lambung, tidak di absorbsi baik oleh cairan lambung
4. Kemurnian dan takaran zat khasiat lebih terjamin.
Kerugian
1. Karena bekerja cepat, jika terjadi kekeliruan sukar dilakukan pencegahan
2. Cara pemberian lebih sukar, harus memakai
tenaga khusus
3. Kemungkinan terjadinya infeksi pada bekas suntikkan
4. Secara ekonomis lebih mahal dibandingkan dengan sediaan oral.
II. TUJUAN
Untuk mengetahui dan memahami prosedur pembuatan obat injeksi papaverin HCl 4% untuk 3 ampul.
III. ALAT dan BAHAN
Alat yang digunakan:
- Ampul
- Batang pengaduk
- Bekerglass
- Benang jagung
- Buret
- Corong
- Erlenmeyer
- Gelas ukur
- Kapas
- Kertas perkamen
- Kertas saring
- Pipet tetes
- Pinset
- Spatula
- Serbet
- Swd
Bahan yang digunakan:
- Papaverin HCl
- NaCl
- Aqua pro injeksi
IV. DATA PREFORMULASI
4.1. Zat Aktif: Papaverin HCl (FI V,Hal:994-995)
RM: C20H21NO4.HCl
Papaverin HCl mengandung tidak kurang dari 98,5% dan tidak lebih dari 100,5% C20H21NO4.HCl, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Pemerian: Hablur; putih atau serbuk hablur putih; tidak berbau; tidak berasa; tidak memeutar bidang polarisasi; larutannya bereaksi asam terhadap kertas lakmus P; melebur pada suhu lebih kurang 220oC disertai peruraian.
Kelarutan: larut dalam air dan dalam kloroform; sukar larut dalam etanol; praktis tidak larut dalam eter.
Baku Pembanding: Papaverin HCl BPFI, Lakukan pengeringan pada suhu 105o C selama 2 jam sebelum digunakan.
pH: 3,0 dan 4,5
Sterilisasi: autoklaf atau filtrasi (MARTINDALE, hal:1271)
4.2. Zat Pembantu
Natrium klorida:NaCl (FI IV, Hal:584, HOPE,hal:637)
RM: NaCl
BM: 58,44
Natrium Klorida mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,0% NaCl dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Tidak mengandung zat tambahan.
Pemerian: Hablur bentuk kubus; tidak bewarna atau serbuk hablur
putih; rasa asin
Kelarutan: Mudah larut dalam air; sedikit lebih mudah larut dalam air mendidih; larut dalam gliserin; sukar larut dalam etanol.
pH: 4,5 dan 7,0
Sterilisasi: autoklaf atau filtrasi (MARTINDALE, hal:1708)
Aqua pro injeksi (FI IV hal 112)
Air steril untuk injeksi adalah air untuk injeksi yang di sterilkan dan dikemas dengan cara yang sesuai. Tidak mengandung bahan anti mikroba atau bahan tambahan lainnya.
RM: H2O
BM: 18,02
Pemerian : cairan jernh ; tidak berwarna ; tidak berbau
Sterilisasi : dengan cara mendidihkan air
V. TINJAUAN KIMIA FARMASI ZAT AKTIF
5.1 Analisa kualitatif (FI V hal 995)
Identifikasi
Spektrum serapan inframerah zat yang telah dikeringkan dan dididespersikan dalam Kalium Bromida P menunjukkan maksimum hanya pada bilangan gelombang yang sama seperti pada Papaverin Hidroklorida BPFI
Spektrum serapan ultraviolet larutan (1 dalam 400000) dalam Asam Klorida 0,1 N menunjukkan maksimum dan minimum pada panjang gelombang yang sama seperti pada Papaverin Hidroklorida BPFI ; serapan masing - masing dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan pada panjang gelombang serapan maksimum lebih kurang 251 nm berbeda tidak lebih dari 3,0 %.
Larutan (1 dalam 50) menunjukkan reaksi Klorida cara A,B dan C.
5.2 Analisa Kuantitatif ( FI edisi V hal 995)
Penetapan kadar :
timbang seksama lebih kurang 700 mg zat, larutkan 80 mL Asam asetat P tambahkan 10 mL raksa (II) asetat LP dan 1 tetes kristal violet LP, titrasi dengan Asam perklorat 0,1 N LP hingga titik akhir berwarna biru hijau. Lakukan penetapan blangko.
Tiap mL Asam Perklorat 0,1 N setara dengan 37,59 mg C20H21NO4.HCl.
VI. TINJAUAN FARMAKOLOGI ZAT AKTIF
Papaverin bekerja sebagai antispasmodik pada kelainan fungsi saluran cerna yang secara langsung bekerja sebagai relaksan terhadap otot polos dengan cara menghambat fosfodiesterase, zat ini berkhasiat untuk pengobatan kolik ginjal, kolik kandung kemih: empedu,keadaan yang diperlukan untuk relaksasi otot polos, embolik perifer, dan mosentrik.
Indikasi :
kolik kandung empedu, dan ginjal dan kondisi dimana memerlukan relaksasi otot polos, embolisme perifer dan mesentrum
spasmolitik, kejang perut, kejang saluran kemih, saluran empedu, dismenore, migrain (emboli perifer dan mesentrik)
Kontra indikasi : glaukoma, syok, hipotensi, insufusiensi jantung, kerusakan hati, adenoma prostat, atoni usus dan kantong kemih, kehamilan dan menyusui.
Efek samping : pandangan kabur, mual,mengantuk,berkeringat.
VII. FORMULASI SEDIAAN
7.1. Formula pemasaran(ISO,VOL. 50, hal:419)
NOVAVERINE( Novapharin)
R/ Papaverine HCl 40mg/mL
7.2. Formula sediaan( Wattimena II, hal:80)
R/ papaverin HCl 4g
NaCl 0,48g
Aqua pro Injeksi ad100mL
M.f.inj 5,5 mL
7.3. Formula yang direncanakan
R/ Papaverin HCl 4g
NaCl 0,48g
Aqua pro Injeksi ad20mL
M.f inj 5,5 mL
7.4. Perhitungan Bahan
* Sediaan yang dibuat
1 Ampul =1,1mL
5 Ampul =5x1,1mL=5,5mL
Pembilasan Buret=2x3mL=6mL
Jadi sediaan yang digunakan = 5 ampul+pembilasan buret
=(5,5+6)mL=11,5mL→20mL
* Tonisitas berdasarkan rumus titik beku:
Nilai PTB masing-masing zat (wattimena I,hal: 120) :
Papaverin HCl =0,06
NaCl =0,576
→Hipotonis
Jadi NaCl yang ditambahkan agar sediaan isotonis: 0,4792g
* NaCl yang ditimbang= 0,096g+0,4792g=0,5752g=572,2mg
7.5. Cara Kerja
1. Sterilkan Alat
2. Buat aqua pro injeksi sebanyak 20mL, dengan cara merebus air sampai mendidih
3. Timbang Papaverin HCl dan NaCl, larutkan dengan aqua pro injeksi sebanyak 20mL di bekerglass, aduk homogen ad terlarut (larutan injeksi papaverin HCl)
4. Saring larutan injeksi papaverin HCl dengan kertas saring sampai jernih
5. Setelah jernih masukkan larutan tersebut ke buret yang sudah di bilas
6. Larutan injeksi yang ada pada buret, masukkan ke dalam 5 ampul, masing-masing
ampul dengan volume 1,1mL, dan tutup ujung ampul dengan topi yang tersedia/terbuat dari kertas perkamen
7. Bakar ujung ampul dengan api bunsen agar ujung ampul tertutup-kedap5 Ampul yang ujungnya sudah ditutup, letakkan ke dalam bekerglass yang permukaannya sudah dialas
dengan kapas, dimana keadaan ampul diletakkan secara terbalik dan sterilkan pada SWD selama 30 menit dengan temperatur 150OC
8. Setelah steril, lakukan uji kebocoran
Beri etiket dan masukkan ke kotak serta disertai dengan brosur
IX. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia(FI). Edisi III. Depkes RI. Jakarta
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia(FI). Edisi IV. Depkes RI. Jakarta
Anonim. 2014. Farmakope Indonesia(FI). Edisi V. Depkes RI. Jakarta
Dra.J.R. Wattimena, Drs. Tan. Slang. 1968. Dasar-dasar Pembuatan dan Resep-resep Obat Suntik. Edisi I. Tarate:Bandung
Dra.J.R. Wattimena, Drs. Tan. Slang. 1968. Dasar-dasar Pembuatan dan Resep-resep Obat Suntik. Edisi II. Tarate:Bandung
William Martindale. 1883. The First Edition of the Extra Pharmacopoeie. Twenty-Eight. The Pharmaceutical Press:London
Raymond C,Paul J, and Mariam e. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipient. Sixth Edition .
Drs. H. A. Syamsuni, Apt. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: EGC.
IAI. 2016. Informasi Spesialist Obat Indonesia(ISO). Volume 50. PT. ISFI Penerbitan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Ananda Citra Dewi, membuat blog dan Posting posting pertama ok. nama blog pada "Verin"...kurang huruf "N" jadi "Veri" aja...coba cek ya...
BalasHapusLanjutkan Posting Latihan2 ya...